Travelling, the ending of story








.
.
.
.
.
.

Chapter 4
( ENDING STORY )



Raqila sudah bersiap-siap, kini ia tengah menunggu Sejoon di depan halte bus dekat dengan hotel tempatnya menginap. Tak lama kemudian, ada sebuah mobil yang berhenti di depan Raqila.

 Kaca bagian pengemudi nya pun turun, menampakkan Sejoon yang menggunakan kacamata hitam. Yang menambah kadar kegantengannya berkalilipat.

“Raqila ayo masuk! Ngapain diem aja disitu?”
Raqila tersadar dari lamunannya tadi, lalu ia segera menaiki mobil milik Sejoon.

“are you ready??”
“yes i’m ready to go!!”

Sejoon pun menjalankan mobilnya dengan santai, meninggalkan kota Seoul.

Di tengah perjalanan, Raqila menyalakan radio. Dan terputarlah lagu There’s Nothing Holding Me Back – Shawn Mendes

Sejoon pun menyanyikannya secara perlahan.

 “I wanna follow where she go
I think about her and she knows it
I wanna let her take control
‘Cause every time that she gets close, yeahh”

“oh, I’ve been shaking 
I love i when you go carzy
You take all my inhibitions
Baby, there’s nothing holding me back

You take me places that tear up my 
Reputation
Manipulate my decisions
Baby, there’s nothing holding me back” kini Raqila yang bernyanyi

Bergantian, kini Sejoon yang menyanyi,
‘Cuse if we lost our minds
And we took it too far
I know we’d be alright
I know we would be alright 

If you were by my side
And we stubled in the dark
I know we’d be alright
We would be alright 

Bagian akhir lagu, mereka menyanyinyakannya bersama sama.

I feel so free
Whe you’re with me
Baby
Baby, there’s nothing holding me back

“wooo Sejoon, suara kamu bagus juga”
“hahaha, suara kamu juga hmm lumayan ga buruk kok” ucap Sejoon yg diiringi satu pukulan telak dari Raqila.

Mereka bersenang-senang, tak henti-hentinya menyanyikan lagu yang tersetel di radio.

Setelah beberapa jam duduk di mobil, akhirnya mereka sampai di kafe yang berada di Gapyeong.

⌚⌚⌚


-Caffe Mario-

Raqila keluar dari mobil lalu menghirup udara sejuk yang terasa—ya karena mereka sedang dalam kawasan pergunungan di Gapyeong. Memungkinkan bahwa udara disini sangat sejuk, dan sedikit dingin. Berbeda dengan keadaan di seoul yang padat dan ramai, serta polusi dimana-mana.

Mereka pun memesan satu porsi pizza berukuran sedang, 2 porsi pasta, dan beberapa cemilan lainnya, dan tak lupa minuman yang melengkapi kegiatan mereka hari ini. Mereka memilih duduk dibagian luar caffe, yang menghadap langsung dengan pemandangan pegunungan Gapyeong.

Selagi menunggu pesanan datang, Raqila tentu tak lupa untuk memfoto pemandangan yang disuguhkan depan matanya ini. Karena udara yang dingin, membuat alergi dingin Raqila muncul. Dan kini ia mulai bersin-bersin.

“kamu kedinginan?” tanya Sejoon
“ahh aku sedikit alergi dengan cuaca yg dingin, tapi tenang saja ini tidak akan memakan waktu yang lama.” Ucap Raqila.

Sejoon melepaskan jaket denim yang ia pakai, lalu memakaikannya ke tubuh Raqila, “pakai ini saja dulu, biar alergi mu ga tambah parah.”

Raqila menundukan kepalanya, “ah maafkan aku, pasti merepotkan bukan?”

Sejoon meraih tangan Raqila, lalu membawanya keatas meja. “tak apa, itu tidak merepotkan sama sekali. Jangan merasa bersalah terus-terusan. Aku suka jika berada disampingmu.”

Merkea pun saling tapa-menatap, hingga pelayan datang membawa pesanan mereka.
“coba deh makan pizza nya sambil di celupin ke madu, enak tau”

Raqila pun mengikuti perintah Sejoon, lalu matanya terbelalak. “hmm!! Aku baru tau, ternyata dicampur kaya gini rasanya enak juga ya.”

Saat mereka sedang menikmati pesanan mereka, tiba-tiba ada vidcall masuk ke handphone Raqila.

“eoh jihan, kenapa nge vidcall?”
Terlihat jihan yang sedang bergelung di kasur. “hng? Kamu lagi dimana? Ko kaya kenal latar nya?” tanya jihan.

“ohh, itu aku lagi di caffe mario. Caffe yang kata kamu waktu itu loh”
Jihan terbangun, “ihh ko ga ngajak-ngajak sih?!!”

Raqila menatap Sejoon yang ada dihadapannya, “engg aku kira kamu masih sibuk. Dari semalem aku chat kamu gabales-bales sih.”

“ihhh, sekarang kamu sama siapa ksana? Gamungkin  sendirian kan?” tanya Jihan.

“emmm, aku kesini barengg... temen aku”
“hah teman yang mana? Emang kamu punya teman selain aku disini?”

“ya kamu kira aku Cuma bisa temenan sama kamu doang apa?!” ujar Raqila
“manaa ihh sama temen yang mana laa?!!”
 Raqila meminta persetujuan ke Sejoon, untuk mengenalkan dirinya kepada Jihan.

 Raqila mengubah kamera depan menjadi kamera belakang,
“anyeonghaseyo, Kim Se Joon imnida” Sejoon membungkukan badannya
“ahh ne, nama ku Seo Ji Han. Sejak kapan kalian berteman?”
“aa itu, sejak Raqila di korea. mungkin?”
“woahhhh!!! Yak Raqila!! Kamu nge date sama cowok kok gabilang-bilang sih?!”

Raqila terkejut, “Yak!! Siapa yang ngedate hah?!”
“ituu kalian berduaa, mana lagi di Gapyeong. Hmm ku mencium sesuatu antara kalian berdua.”
“haha apaan si, udah ah aku tutup telelponnya!! Byee!!” Raqila cepat-cepat mematikan vicall nya dengan Jihan

“apa tadi adalah temanmu, yang sering kamu ceritain?” tanya Sejoon.

Raqila mengangguk, “iyaa dia Jihan, bawel kan orangnya?”
“tapi tetep temen kamu ini.”
Mereka melanjutkan kembali memakan pasta, tapi tiba-tiba ada serangga yang hinggap di meja mereka.

“arghh ya ya ada serangga!!” Sejoon refleks berdiri lalu menjauhi meja, otomatis membuat Raqila terkejut dan ikut berdiri.

“apa apa apa? Ada apa?”
“itu ada serangga disitu” ucap Sejoon yng kini berdiri di belakang Raqila.

Raqila pun mengusir serangga tersebut dengan tas kecil nya, setelah serangga tersebut pergi. Kini mereka kembali duduk.
“serangga nya gabakal balik lagi terus bawa pasukan kan?” tanya Sejoon yg masih was was ngeliatin sekitar.

Raqila tertawa sebentar, “enggaa bakal, serangganya gabakal balik lagi kok. Udah sinii lanjutin makannya.”
Mereka membuat satu kenangan lain hari ini.
“Besok kamu berangkat jam berapa ke bandara?”tanya Sejoon saat mereka sedang dalam perjalanan menuju Seoul kembali.
“aku chekout dari hotel jam 7, terus berangkat ke bandara jam 8. Karena pesawat akan (?) jam 10”
“hmm bolehkah aku nganter kamu dari hotel sampai bandara? Dan jangan merasa terbebani ! aku  tulus melakukannya”
“haha baiklah, lagipula aku tak bisa membantah perkataaanmu kan?”

⌚⌚⌚


Saat Raqila sudah keluar dari hotel, terlihat Sejoon yang sudah menunggunya di depan pintu lobi. “oh apa aku membuatmu lama menunggu?” tanya Raqila.

Sejoon meraih koper milik Raqila lalu memasukkanya kedalam bagasi, “tidak,aku juga baru beberapa menit sampai disini”
Sejoon membukakan pintu mobil untuk Raqila, “awas hati-hati kepalamu” ucap Sejoon saat Raqila menaiki mobil.

Sejoon pun berputar arah, lalu memasuki mobil bagian pengemudi.
Tidak seperti hari-hari sebelumya, kini suasana mereka cukup cangung. Tak ada yang memulai obrolan sama sekali.
Perjalanan memakan waktu 45 menit, setelah sampai di bandara pun Sejoon tampak diam saja, dia hanya menurunkan koper milik Raqila, lalu membawa nya kedalam, dengan alasan. “aku tidak ingin kamu kecapean, biar aku yang membawanya.”

Kini mereka tengah menunggu informasi keberangkatan pesawat yang akan membawa pulang Raqila ke Indonesia kembali.
“jihan ga ikut kesini?” tanya Sejoon
“ah dia tidak bisa ikut mengantarkan karena ia harus bekerja pagi-pagi sekali hari ini.”

 Sekian lama mereka saling diam, Sejoon pun akhirnya memecah keheningan,“kapan kamu akan kembali ke sini lagi Qila?”
“entahlah, aku masih belum memikirkan untuk kembali lagi kesini.”

Terdengar informasi bahwa pesawat dengan tujuan Indonesia sudah memasuki waktu boarding time.
Seperti tidak ingin pergi, akhirnya Raqila berdiri, diikuti Sejoon.
Raqila menatap Sejoon begitupun sebaliknya, seperti ada makna yang tersirat bahwa mereka sama-sama tidak menginginkan perpisahan ini.

Dan entah mengapa, kini tetesan air mata telah jatuh di pipi Raqila. Sejoon pun dengan sigap menyentuh wajah Raqila, lalu menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
“tersenyumlah dan berhenti menangis, karena airmata yang kamu teteskan hanya akan membuatku semakin tidak ingin merelakanmu pergi.” Sejoon menatap Raqila dengan penuh kehangatan.

“terimakasih sudah membuat hari-hariku terasa menyenangkan selama disini.” Raqila memegang tangan Sejoon
“seharusnya aku yang terimakasih sama kamu.”

Raqila tersenyum membuat Sejoon ikutan tersenyum.
“pergilah, jika memang ditakdirkan, sejauh apapun jarak memisahkan. Kamu pasti akan kembali padaku.” Sejoon melepaskan tangannya dari genggaman Raqila.

Raqila menghela nafas, ia pun pergi. Karena waktu boarding akan segera habis. Saat ia telah menunjukan kartu boarding pass, Raqila membalikkan badannya lalu melambai-lambailan tangannya ke arah Sejoon.

Sejoon hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Raqila, ia pun membalas lambaian tangan Raqila. Setelah memastikan bahwa Raqila benar-benar telah menaiki pesawat. Kini sejoon hanya tersenyum miris, ia harus melepas pergi orang yang ia sayangi.


END.

“Tidak seorangpun siap dengan perpisahan, namun setiap ada pertemuan. Pati ada perpisahan.”

“Perpisahan bukan berarti berhenti untuk menyatukan dua hati meski tidak ada lagi di satu tempat yg sama”

⌚⌚⌚

Huhuhuuu tamat jugaa!! Gimana gimsnas ending nya seru kan? Untuk kelanjutannya aku serahkan pada para pembaca. :) 

Makasih udah mau baca blog abal-abal saya :') lebih makasih lagi kalo kalian bersedia komen di setiap update an aku :v buat unprak hehehehe, minta bantuannya. 

Jangan lupa komen ya gaes!

Komentar

Posting Komentar